"

Kamis, 14 Februari 2013

Kemurtadan-Jalan menuju Allah terhalang.

Pasal
11

Kemurtadan—Jalan
menuju Allah Terhalang

MENGAPA 400 tahun pertama sejarah Susunan Kristen begitu penting? Alasannya sama dengan pentingnya tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak—karena periode itu merupakan tahun-tahun pembentukan yang menjadi dasar kepribadian individu tersebut di masa depan. Apa yang disingkapkan oleh abad-abad permulaan Susunan Kristen?

2
Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita ingat suatu kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus Kristus, ”Masuklah melalui gerbang yang sempit; karena lebar dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; sebab sempitlah gerbang dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang menemukannya.” Jalan yang sesuai dengan kemauan kita itu lebar; jalan yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar itu sempit.—Matius 7:13, 14.

3
Pada awal Kekristenan terbentanglah dua jalan di hadapan orang-orang yang mendukung iman yang tidak populer itu—tanpa kompromi berpegang pada ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip dari Kristus dan Alkitab atau tertarik ke jalan kompromi yang lebar dan mudah bersama dunia zaman itu. Seperti yang akan kita lihat, 400 tahun pertama sejarah tersebut memperlihatkan jalan mana yang akhirnya dipilih oleh kebanyakan orang.

Rayuan

Filsafat

4
Sejarawan Will Durant menjelaskan, ”Gereja mengadopsi beberapa kebiasaan dan bentuk ibadat yang umum di Roma pra-Kristen [kafir]—selendang dan jubah keagamaan para imam kafir, penggunaan kemenyan dan air suci untuk pemurnian, penyalaan lilin dan lampu abadi di depan altar, penyembahan santo, arsitektur basilika, hukum Roma sebagai dasar hukum kanonis, gelar Pontifex Maximus bagi Imam Tertinggi, dan pada abad keempat, bahasa Latin . . . Tak lama kemudian, para uskuplah, bukannya para penguasa daerah Romawi, yang mengeluarkan peraturan dan memegang tampuk kekuasaan di kota-kota; para uskup agung akan mendukung, atau bahkan menggantikan, gubernur provinsi; dan sinode para uskup menggantikan dewan provinsi. Gereja Roma mengikuti jejak negara Roma.”—The Story of Civilization: Part III—Caesar and Christ.

5
Sikap kompromi dengan dunia Roma ini bertentangan sekali dengan ajaran Kristus dan para rasul. (Lihat kotak, halaman 262.) Rasul Petrus menasihati, ”Saudara-saudara yang kukasihi, . . . aku membangunkan kemampuan berpikirmu yang tajam melalui suatu pengingat, agar kamu mengingat perkataan yang telah disampaikan sebelumnya oleh nabi-nabi kudus dan perintah Tuan dan Juru Selamat itu melalui rasul-rasulmu. Maka, hai, saudara-saudara yang kukasihi, karena kamu telah mengetahui ini sebelumnya, waspadalah agar kamu tidak terbawa oleh mereka, melalui kesalahan orang-orang yang menentang hukum dan jatuh dari keadaanmu yang kokoh.” Paulus dengan jelas menasihati, ”Jangan memikul kuk secara tidak seimbang bersama orang-orang yang tidak percaya. Karena apakah ada persekutuan antara keadilbenaran dengan pelanggaran hukum? Atau apakah ada persamaan antara terang dengan kegelapan? . . . ’”Karena itu keluarlah dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu,” kata Yehuwa, ”dan berhentilah menyentuh perkara yang najis”’; ’”dan aku akan menerima kamu.”’”—2 Petrus 3:1, 2, 17; 2 Korintus 6:14-17; Penyingkapan 18:2-5.

6
Meskipun adanya pengingat yang jelas ini, orang Kristen yang murtad pada abad kedua mengadopsi atribut-atribut agama Romawi kafir. Mereka tidak mempertahankan kemurnian awal yang berdasarkan Alkitab, tetapi sebaliknya mengenakan jubah serta gelar-gelar Romawi kafir dan sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Profesor Wolfson dari Harvard University menjelaskan dalam The Crucible of Christianity bahwa pada abad kedua, banyak sekali ”orang kafir yang paham filsafat” memasuki Kekristenan. Mereka mengagumi hikmat orang Yunani dan menyangka bahwa ada persamaan antara filsafat Yunani dan ajaran Alkitab. Wolfson melanjutkan, ”Adakalanya mereka menyatakan diri dengan berbagai cara untuk menunjukkan bahwa filsafat adalah karunia istimewa Allah untuk orang Yunani melalui penalaran manusia seperti halnya Alkitab untuk orang Yahudi melalui penyingkapan langsung.” Ia melanjutkan, ”Bapak-Bapak Gereja . . . memulai upaya yang sistematis untuk memperlihatkan bahwa, di balik bahasa sederhana yang Alkitab gunakan, tersembunyi ajaran-ajaran para filsuf yang diutarakan dengan istilah-istilah teknis yang samar-samar yang diciptakan di Akademi, Lyceum, dan Beranda [pusat-pusat diskusi filsafat] mereka.”

7
Sikap demikian membuka jalan bagi filsafat dan peristilahan Yunani untuk memasuki ajaran Susunan Kristen, khususnya di bidang doktrin Tritunggal dan kepercayaan akan jiwa yang tak berkematian. Sebagaimana Wolfson nyatakan, ”Bapak-Bapak [Gereja] mulai mencari dua istilah teknis yang baik dalam perbendaharaan istilah filsafat. Yang satu digunakan untuk menunjukkan kenyataan bahwa setiap anggota Tritunggal adalah pribadi yang terpisah, dan yang satu lagi digunakan untuk menunjukkan kesatuan mereka yang mendasar.” Namun, mereka harus mengakui bahwa ”konsep Allah tiga serangkai merupakan misteri yang tidak dapat dipecahkan oleh penalaran manusia”. Sebaliknya, Paulus dengan jelas menyadari bahaya pencemaran dan ’pemutarbalikan kabar baik’ demikian ketika ia menulis kepada orang-orang Kristen di Galatia dan Kolose, ”Berhati-hatilah: mungkin ada orang yang akan membawa kamu pergi sebagai mangsanya melalui filsafat [bahasa Yunani, fi

·lo·so·fias] dan tipu daya kosong menurut ajaran turun-temurun dari manusia, menurut hal-hal dasar dari dunia dan bukan menurut Kristus.”—Galatia 1:7-9; Kolose 2:8; 1 Korintus 1:22, 23.

Kebangkitan

Ditiadakan

8
Seperti telah kita bahas dalam buku ini, manusia terus bergumul dengan misteri kehidupannya yang singkat dan terbatas yang berakhir dengan kematian. Seorang penulis asal Jerman Gerhard Herm menyatakan dalam bukunya The Celts—The People Who Came Out of the Darkness, ”Agama adalah salah satu jalan untuk membuat orang bisa menerima kenyataan bahwa suatu hari mereka pasti mati, entah dengan janji akan kehidupan yang lebih baik di alam baka, kelahiran kembali, atau keduanya.” Hampir setiap agama bergantung pada kepercayaan bahwa jiwa manusia itu tak berkematian dan bahwa setelah mati jiwa akan pergi ke alam baka atau pindah ke makhluk lain.

9
Hampir semua agama Susunan Kristen dewasa ini juga menganut kepercayaan itu. Miguel de Unamuno, seorang pakar terkemuka abad ke-20 asal Spanyol, menulis mengenai Yesus, ”Sebaliknya, ia percaya pada kebangkitan jasmani [misalnya kasus Lazarus (lihat halaman 248-51)], seperti yang dianut orang Yahudi, dan bukan pada jiwa yang tak berkematian, seperti yang dianut Plato [Yunani]. . . . Bukti mengenai hal ini dapat dilihat dalam setiap buku tafsiran yang jujur.” Ia menyimpulkan, ”Jiwa yang tak berkematian . . . adalah dogma filsafat kafir.” (La Agonía Del Cristianismo [Penderitaan Kekristenan]) ”Dogma filsafat kafir” itu menyusup ke dalam ajaran Susunan Kristen, meskipun Kristus jelas-jelas tidak memiliki gagasan demikian.—Matius 10:28; Yohanes 5:28, 29; 11:23, 24.

10
Pengaruh filsafat Yunani yang tidak kentara ini merupakan faktor kunci dari kemurtadan setelah kematian para rasul. Ajaran jiwa yang tak berkematian dari Yunani menyiratkan perlunya berbagai tujuan bagi jiwa—surga, api neraka, api penyucian, firdaus, Limbo. Dengan memanipulasi ajaran-ajaran demikian, mudahlah bagi golongan imam untuk membuat kawanan mereka tetap patuh dan takut pada Akhirat serta untuk menarik pemberian dan sumbangan dari mereka. Hal ini membuat kita bertanya lebih jauh: Bagaimana asal mula golongan imam dan pendeta yang eksklusif dalam Susunan Kristen?—Yohanes 8:44; 1 Timotius 4:1, 2.

Terbentuknya

Golongan Klerus

11
Petunjuk lain kemurtadan adalah mundurnya semua orang Kristen dari pelayanan umum yang diajarkan oleh Yesus serta para rasul, dan berkembangnya golongan pemimpin agama yang eksklusif serta hierarki dalam Susunan Kristen. (Matius 5:14-16; Roma 10:13-15; 1 Petrus 3:15) Pada abad pertama, setelah kematian Yesus, para rasul beserta penatua Kristen lainnya yang memenuhi syarat secara rohani di Yerusalem bertugas untuk memberikan nasihat dan bimbingan kepada sidang Kristen. Tidak seorang pun merasa lebih tinggi daripada yang lain.—Galatia 2:9.

12
Pada tahun 49 M, mereka perlu mengadakan rapat di Yerusalem untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mempengaruhi orang Kristen pada umumnya. Catatan Alkitab menceritakan bahwa setelah pembahasan secara terbuka, ”rasul-rasul dan para tua-tua [pre·sby

te·roi] bersama segenap sidang jemaat berkenan mengutus pria-pria yang dipilih dari antara mereka ke Antiokhia bersama Paulus dan Barnabas, . . . dan melalui tangan pria-pria itu, mereka menulis, ’Dari rasul-rasul dan para tua-tua, saudara-saudara, kepada saudara-saudara yang ada di Antiokhia, Siria, dan Kilikia, yang berasal dari bangsa-bangsa: Salam!’” Jelaslah, para rasul dan penatua melayani sebagai badan pimpinan yang mengurus sidang-sidang Kristen yang tersebar luas.—Kisah 15:22, 23.

13
Jika badan pimpinan di Yerusalem merupakan penyelenggaraan Kristen masa awal untuk mengawasi semua orang Kristen secara umum, sistem pengarahan apa yang ada di setiap sidang, di tingkat lokal? Dari surat Paulus kepada Timotius jelaslah bahwa sidang-sidang mempunyai pengawas-pengawas (bahasa Yunani, e·pi

sko·pos, asal kata ”episkopal”) yang adalah para penatua (pre·sbyte·roi), pria-pria yang memenuhi syarat untuk mengajar rekan-rekan Kristen karena tingkah laku dan kerohanian mereka. (1 Timotius 3:1-7; 5:17) Pada abad pertama, pria-pria ini tidak membentuk golongan klerus yang eksklusif. Mereka tidak mengenakan jubah yang khas. Kerohanian merekalah ciri khasnya. Bahkan, setiap sidang memiliki badan penatua (pengawas), bukan kekuasaan oleh satu orang semacam sistem monarki.—Kisah 20:17; Filipi 1:1.

14
Seraya waktu berlalu, kata e·pi

sko·pos (pengawas, penanggung jawab) berubah menjadi ”uskup”, artinya imam yang mempunyai wewenang atas klerus lainnya di wilayah keuskupannya. Sebagaimana dijelaskan Bernardino Llorca, seorang Yesuit Spanyol, ”Mula-mula, tidak dibuat perbedaan yang besar antara uskup dan presbiter, dan yang diperhatikan hanyalah arti kata-kata tersebut: uskup sama dengan penanggung jawab; presbiter sama dengan tua-tua. . . . Tetapi, sedikit demi sedikit perbedaannya semakin jelas, yang disebut uskup adalah penanggung jawab yang lebih penting dengan wewenang keimaman tertinggi dan kemampuan untuk menumpangkan tangan serta menganugerahkan keimaman.” (Historia de la Iglesia Católica [Sejarah Gereja Katolik]) Sebenarnya, para uskup mulai menjalankan peranan dalam semacam sistem monarki, khususnya sejak permulaan abad keempat. Suatu hierarki, atau kelompok klerus yang memerintah, dibentuk dan belakangan uskup Roma yang mengaku sebagai pengganti Petrus diakui oleh banyak orang sebagai uskup tertinggi dan paus.

15
Dewasa ini, kedudukan uskup di berbagai gereja Susunan Kristen merupakan kedudukan yang bergengsi dan berkuasa, biasanya dengan gaji besar, dan sering disejajarkan dengan golongan penguasa elit setiap negara. Tetapi, ada perbedaan yang mencolok antara status mereka yang ditinggikan serta dimuliakan dan kesederhanaan organisasi di bawah Kristus serta para penatua, atau pengawas, sidang Kristen masa awal. Dan, apa yang dapat dikatakan mengenai perbedaan besar antara Petrus dan orang-orang yang menyebut diri para penggantinya, yang memerintah di lingkungan Vatikan yang mewah?—Lukas 9:58; 1 Petrus 5:1-3.

Kekuasaan

dan Prestise Kepausan

16
Salah satu sidang Kristen masa awal yang menerima pengarahan dari para rasul dan penatua di Yerusalem adalah sidang di Roma, yang dijangkau oleh kebenaran Kristen mungkin tidak lama setelah Pentakosta 33 M. (Kisah 2:10) Seperti halnya sidang Kristen lain pada masa itu, sidang tersebut memiliki penatua-penatua, yang melayani sebagai suatu badan pengawas tanpa seorang pun yang berkedudukan lebih tinggi. Pasti tidak ada pengawas masa awal di sidang Roma itu yang dipandang oleh orang-orang sezamannya sebagai uskup atau paus, karena keuskupan monarki di Roma belum terbentuk. Kapan mulainya keuskupan yang bersifat monarki, atau dipimpin oleh satu orang, sulit untuk dipastikan. Bukti menunjukkan bahwa itu mulai terbentuk pada abad kedua.—Roma 16:3-16; Filipi 1:1.

17
Gelar ”paus” (dari bahasa Yunani pa

pas, bapak) tidak digunakan selama dua abad pertama. Seorang mantan Yesuit bernama Michael Walsh menjelaskan, ”Tampaknya pada abad ketigalah pertama kalinya seorang Uskup Roma disebut ’Paus’, dan gelar itu diberikan kepada Paus Kalistus . . . Pada akhir abad kelima, ’Paus’ biasanya memaksudkan Uskup Roma dan bukan orang lain. Tetapi, baru pada abad kesebelaslah seorang Paus dapat menuntut agar gelar itu berlaku untuk dirinya saja.”—An Illustrated History of the Popes.

18
Salah seorang uskup Roma pertama yang menegakkan wewenangnya adalah Paus Leo I (paus, 440-461 M). Michael Walsh selanjutnya menjelaskan, ”Leo mengambil gelar Pontifex Maximus yang berasal dari kekafiran, yang masih digunakan oleh para paus dewasa ini, dan yang menjelang akhir abad keempat, masih disandang oleh Kaisar-Kaisar Romawi.” Tindakan Leo I didasarkan pada tafsiran Katolik atas kata-kata Yesus di Matius 16:18, 19. (Lihat kotak, halaman 268.) Ia ”menyatakan bahwa karena St.  Petrus adalah yang utama di antara para Rasul, gereja St.  Petrus harus dipandang unggul di antara gereja-gereja”. (Man’s Religions) Melalui langkah ini, Leo I membuat jelas bahwa walaupun kaisar memegang kekuasaan sementara di Konstantinopel di Timur, ia menjalankan kekuasaan rohani dari Roma di Barat. Kekuasaan ini lebih diperjelas ketika Paus Leo III menobatkan Charlemagne sebagai kaisar Imperium Romawi Suci pada tahun 800 M.

19
Sejak tahun 1929, pemerintah sekuler memandang paus Roma sebagai penguasa suatu negara yang berdaulat, yakni Kota Vatikan. Jadi, tidak seperti organisasi agama lainnya, Gereja Katolik Roma dapat mengirim wakil-wakil diplomatik, nunsius (duta besar), ke berbagai pemerintahan dunia. (Yohanes 18:36) Paus dihormati dengan banyak gelar, di antaranya Vikaris (Wakil) Yesus Kristus, Pengganti sang Pemimpin para Rasul, Imam Tertinggi Gereja Universal, Patriark Barat, Uskup Agung Italia, Penguasa Kota Vatikan. Ia disambut dengan kebesaran dan upacara. Ia diberi kehormatan bagaikan seorang kepala negara. Sebagai kontras, perhatikan bagaimana reaksi Petrus, yang dianggap sebagai paus dan uskup Roma pertama, ketika perwira Romawi Kornelius berlutut di kaki Petrus untuk sujud kepadanya, ”Petrus menarik dia berdiri, dan mengatakan, ’Bangunlah; aku juga seorang manusia.’”—Kisah 10:25, 26; Matius 23:8-12.

20
Pertanyaannya sekarang: Bagaimana gereja yang murtad pada abad-abad permulaan itu bisa memperoleh kekuasaan dan prestise yang begitu besar? Bagaimana kesederhanaan dan kerendahan hati Kristus serta orang Kristen masa awal berubah menjadi keangkuhan dan kemegahan Susunan Kristen?

Fondasi

Susunan Kristen

21
Titik balik untuk agama baru ini dalam Imperium Romawi adalah tahun 313 M, ketika Kaisar Konstantin konon ditobatkan ke ”Kekristenan”. Bagaimana pertobatan ini terjadi? Pada tahun 306 M, Konstantin menggantikan ayahnya dan belakangan, ia bersama Lisinius memerintah Imperium Romawi. Ia dipengaruhi oleh pengabdian ibunya kepada Kekristenan dan kepercayaannya sendiri pada perlindungan ilahi. Sebelum ia pergi bertempur di dekat Roma di Jembatan Milvian pada tahun 312 M, ia mengaku mendapat mimpi dan diperintahkan untuk menuliskan monogram ”Kristen”—huruf-huruf Yunani khi dan rho, dua huruf pertama dari nama Kristus dalam bahasa Yunani—pada perisai prajuritnya. Dengan ’jimat suci’ ini, bala tentara Konstantin mengalahkan musuhnya, Maxentius.

22
Tak lama setelah memenangkan pertempuran itu, Konstantin menyatakan bahwa ia telah menjadi orang percaya, meskipun ia baru dibaptis tepat sebelum kematiannya kira-kira 24 tahun kemudian. Ia selanjutnya berupaya memperoleh dukungan orang-orang yang mengaku Kristen dalam imperiumnya dengan ”menggunakan [huruf-huruf Yunani] Khi-Rho [Artwork—Greek characters] sebagai lambangnya . . . Akan tetapi, Khi-Rho telah lebih dahulu digunakan sebagai ligatur [gabungan huruf-huruf] dalam konteks kafir maupun Kristen”.—The Crucible of Christianity, disunting oleh Arnold Toynbee.

23
Alhasil, fondasi Susunan Kristen diletakkan. Seperti ditulis oleh penyiar radio Inggris Malcolm Muggeridge dalam bukunya The End of Christendom, ”Susunan Kristen dimulai dari Kaisar Konstantin.” Namun, ia juga membuat komentar yang jeli, ”Anda bahkan dapat mengatakan bahwa Kristus sendiri telah meniadakan Susunan Kristen sebelum terbentuk dengan mengatakan bahwa kerajaannya bukan dari dunia ini—salah satu pernyataannya yang berdampak paling luas dan penting.” Dan, itu merupakan pernyataan yang paling diabaikan oleh para penguasa agama dan politik Susunan Kristen.—Yohanes 18:36.

24
Dengan dukungan Konstantin, agama Susunan Kristen menjadi agama resmi Negara di Imperium Romawi. Seorang profesor agama, Elaine Pagels, menjelaskan, ”Para uskup Kristen, yang tadinya menjadi sasaran penangkapan, penyiksaan, dan eksekusi, kini mendapat pembebasan pajak, hadiah-hadiah dari perbendaharaan kaisar, prestise, dan bahkan pengaruh di istana; gereja-gereja mereka kini memperoleh kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan terkemuka.” Mereka telah menjadi sahabat kaisar, sahabat dunia Roma.—Yakobus 4:4.

Konstantin,

Bidah, dan Ortodoksi

25
Mengapa ”pertobatan” Konstantin begitu penting? Karena sebagai kaisar ia memiliki pengaruh kuat dalam urusan Gereja ”Kristen” yang terpecah belah secara doktrin, dan ia menginginkan persatuan dalam imperiumnya. Pada masa itu, para uskup yang berbahasa Yunani dan Latin sedang berdebat sengit tentang ”hubungan antara ’Firman’ atau ’Putra Allah’ yang telah menjelma sebagai Yesus, dan ’Allah’ sendiri, sekarang disebut ’sang Bapak’—yang nama-Nya, yakni Yahweh, umumnya telah dilupakan”. (The Columbia History of the World) Ada yang lebih menyukai pandangan yang didukung Alkitab bahwa Kristus, Lo

gos, diciptakan sehingga kedudukannya lebih rendah daripada sang Bapak. (Matius 24:36; Yohanes 14:28; 1 Korintus 15:25-28) Di antaranya ialah Arius, seorang imam di Aleksandria, Mesir. Malah, R. P. C. Hanson, seorang profesor teologi, menyatakan, ”Sebelum pecahnya Kontroversi Arius [pada abad keempat], tidak ada teolog di Gereja Timur ataupun Barat yang dalam beberapa hal tidak menganggap Putra lebih rendah kedudukannya daripada Bapak.”—The Search for the Christian Doctrine of God.

26
Yang lain menganggap pandangan tentang kedudukan Kristus yang lebih rendah itu sebagai bidah dan lebih condong kepada penyembahan Yesus sebagai ”Allah yang Menjelma”. Namun, Profesor Hanson menyatakan bahwa periode yang dipersoalkan (abad keempat) ”bukanlah sejarah tentang upaya membela ortodoksi [Tritunggal] yang telah dimufakati dan mapan terhadap serangan-serangan dari bidah terbuka [Arianisme]. Mengenai pokok yang khususnya sedang dibahas, belum ada doktrin ortodoks apa pun”. Ia melanjutkan, ”Semua pihak yakin bahwa mereka didukung oleh Alkitab sebagai sumber wewenang. Masing-masing menggambarkan pihak lain tidak ortodoks, tidak tradisional, dan tidak berdasarkan Alkitab.” Kalangan agama terpecah belah akibat sengketa teologis ini.—Yohanes 20:17.

27
Konstantin menginginkan persatuan dalam wilayah kekuasaannya, dan pada tahun 325 M ia mengadakan suatu konsili bagi para uskupnya di Nicea, yang terletak di wilayah Timur imperiumnya yang berbahasa Yunani, di seberang Selat Bosporus dari kota baru Konstantinopel. Konon, ada sekitar 250 sampai 318 uskup yang hadir, hanya sebagian kecil dari jumlah keseluruhan, dan kebanyakan yang hadir berasal dari daerah yang berbahasa Yunani. Bahkan, Paus Silvester I tidak hadir. Setelah perdebatan sengit, konsili yang tidak bersifat mewakili itu menghasilkan Kredo Nicea yang sangat condong kepada gagasan Tritunggal. Akan tetapi, konsili itu gagal menyelesaikan perdebatan doktrinal tersebut. Peranan roh kudus Allah dalam teologi Tritunggal tidak dijelaskan. Perdebatan berkecamuk selama puluhan tahun, lebih banyak konsili harus diadakan dan wewenang dari berbagai kaisar serta hukuman pengasingan harus digunakan sebelum akhirnya tercapai kesepakatan. Itu merupakan kemenangan bagi teologi dan kekalahan bagi mereka yang berpegang pada Alkitab.—Roma 3:3, 4.

28
Seraya abad-abad berlalu, salah satu dampak ajaran Tritunggal adalah bahwa satu-satunya Allah yang benar, Yehuwa, telah tenggelam dalam teologi Susunan Kristen yang rumit tentang Allah-Kristus. Konsekuensi logis selanjutnya dari teologi itu ialah bahwa jika Yesus benar-benar Allah yang Menjelma, maka ibu Yesus, Maria, tentunya adalah ’Bunda Allah’. Bertahun-tahun kemudian, ini menghasilkan beragam bentuk pemujaan Maria, meskipun sama sekali tidak ada ayat tentang peranan penting Maria selain sebagai ibu biologis Yesus. (Lukas 1:26-38, 46-56) Selama berabad-abad, ajaran tentang Bunda-Allah itu telah dikembangkan dan dibumbui oleh Gereja Katolik Roma, sehingga banyak orang Katolik lebih bersungguh-sungguh memuja Maria daripada menyembah Allah.

Skisma

dalam Susunan Kristen

29
Ciri lain kemurtadan adalah munculnya perpecahan. Rasul Paulus telah menubuatkan, ”Aku tahu bahwa setelah kepergianku, serigala-serigala yang menindas akan masuk di antara kamu dan tidak akan memperlakukan kawanan dengan lembut, dan dari antara kamu sendiri akan muncul pria-pria yang membicarakan perkara-perkara yang belat-belit untuk menjauhkan murid-murid agar mengikuti mereka.” Paulus telah memberikan nasihat yang jelas kepada orang Korintus ketika ia menyatakan, ”Sekarang aku menasihati kamu, saudara-saudara, melalui nama Tuan kita, Yesus Kristus, agar kamu semua selaras dalam hal berbicara, dan agar jangan ada perpecahan di antara kamu melainkan agar kamu bersatu dengan sepatutnya dalam pikiran yang sama dan dalam jalan pikiran yang sama.” Meskipun adanya desakan Paulus ini, kemurtadan dan perpecahan berkembang tak lama kemudian.—Kisah 20:29, 30; 1 Korintus 1:10.

30
Dalam waktu beberapa dasawarsa setelah kematian para rasul, skisma (perpecahan) sudah nyata di kalangan orang Kristen. Will Durant menyatakan, ”Selsus [penentang Kekristenan pada abad kedua] sendiri dengan pedas mengomentari bahwa umat Kristen ’terpecah menjadi begitu banyak golongan, setiap orang ingin memiliki kelompoknya sendiri’. Kira-kira pada tahun 187 [M] Ireneus menyebutkan ada dua puluh macam Kekristenan; kira-kira pada tahun 384 [M] Epifanius mencatat jumlahnya ada delapan puluh.”—The Story of Civilization: Part III—Caesar and Christ.

31
Konstantin lebih menyukai bagian Timur kekaisarannya yang berbahasa Yunani, dengan membangun ibu kota baru yang luas di daerah yang sekarang adalah Turki. Ia menamai kota itu Konstantinopel (sekarang Istambul). Akibatnya, selama berabad-abad Gereja Katolik terpolarisasi dan terbagi secara bahasa maupun geografi—Roma yang berbahasa Latin di Barat versus Konstantinopel yang berbahasa Yunani di Timur.

32
Perdebatan yang memecah belah mengenai aspek-aspek ajaran Tritunggal yang masih berkembang terus menimbulkan pergolakan dalam Susunan Kristen. Konsili lain diselenggarakan pada tahun 451 M di Kalsedon untuk mendefinisikan ciri ”kodrat” Kristus. Gereja-gereja Barat menerima kredo yang dikeluarkan konsili ini, namun gereja-gereja Timur tidak setuju, sehingga terbentuklah Gereja Koptik di Mesir serta Abisinia dan gereja-gereja ”Yakub” di Siria serta Armenia. Persatuan Gereja Katolik terus terancam oleh perpecahan mengenai soal-soal teologi yang sulit dipahami, terutama definisi doktrin Tritunggal.

33
Penyebab lain perpecahan adalah pemujaan patung-patung. Selama abad kedelapan, para uskup Timur menentang pemujaan berhala ini dan memasuki apa yang disebut periode penghancuran patung atau ikonoklasme. Belakangan, mereka kembali menggunakan ikon (patung dan gambar suci).—Keluaran 20:4-6; Yesaya 44:14-18.

34
Ujian besar berikutnya terjadi pada abad keenam sewaktu gereja Barat menambahkan kata Latin filioque (”dan dari Putra”) pada Kredo Nicea untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapak dan juga Putra. Penambahan ini mengakibatkan keretakan ketika ”pada tahun 876 suatu sinode [para uskup] di Konstantinopel mengecam paus karena kegiatan politiknya maupun karena ia tidak mengoreksi bidah yang menggunakan klausa filioque. Inilah salah satu tindakan dari penolakan gereja-gereja Timur atas hak paus untuk memiliki yurisdiksi universal atas Gereja”. (Man’s Religion) Pada tahun 1054, perwakilan paus mengekskomunikasi patriark (uskup agung) Konstantinopel, yang sebagai balasannya mengutuk paus. Perpecahan itu akhirnya menyebabkan terbentuknya Gereja-Gereja Ortodoks Timur—Yunani, Rusia, Rumania, Polandia, Bulgaria, Serbia, dan gereja-gereja lain yang berdiri sendiri.

35
Ada gerakan lain yang juga mulai menyebabkan pergolakan dalam Gereja. Pada abad ke-12, Peter Waldo, dari Lyons, Prancis, ”mengerahkan beberapa pakar untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam langue d’oc [bahasa daerah] di Prancis Selatan. Ia mempelajari terjemahan itu dengan bersemangat, dan menyimpulkan bahwa umat Kristen harus hidup seperti para rasul—tanpa harta benda pribadi”. (The Age of Faith, oleh Will Durant) Ia memulai gerakan pengabaran yang dikenal sebagai gerakan kaum Waldens. Mereka menolak keimaman Katolik, surat pengampunan dosa, api penyucian, transubstansiasi, dan praktek serta kepercayaan tradisional Katolik lainnya. Mereka menyebar ke negeri-negeri lain. Konsili Toulouse mencoba menghalangi mereka pada tahun 1229 dengan melarangkan kepemilikan buku-buku Alkitab. Hanya buku liturgi yang diperbolehkan, itu pun dalam bahasa Latin yang sudah tidak digunakan lagi. Akan tetapi, masih akan ada lebih banyak perpecahan dan penganiayaan agama.

Penganiayaan

terhadap Kaum Albigensia

36
Gerakan lain terbentuk pada abad ke-12 di Prancis Selatan—gerakan kaum Albigensia (juga dikenal sebagai orang Kathar), yang namanya diambil dari kota Albi, tempat banyak pengikutnya berada. Mereka memiliki golongan klerus sendiri yang hidup selibat, yang ingin disapa dengan sebutan kehormatan. Mereka percaya bahwa Yesus berbicara secara kiasan pada perjamuan malamnya yang terakhir ketika ia berkata mengenai roti, ”Inilah tubuh-Ku.” (Matius 26:26, TB) Mereka menolak doktrin Tritunggal, Kelahiran oleh Perawan, api neraka, dan api penyucian. Jadi, mereka secara aktif meragukan ajaran-ajaran Gereja Roma. Paus Inocentius III memerintahkan agar kaum Albigensia ditindas. ”Kalau perlu,” katanya, ”ganyang mereka dengan pedang.”

37
Perang salib dilancarkan terhadap ”kaum bidah”, dan para prajurit Katolik membantai 20.000 pria, wanita, dan anak-anak di Béziers, Prancis. Setelah banyak menumpahkan darah, perdamaian terwujud pada tahun 1229, dengan kekalahan di pihak kaum Albigensia. Konsili Narbonne ”melarang kaum awam memiliki bagian mana pun dari Alkitab”. Akar problem yang dihadapi Gereja Katolik ternyata adalah keberadaan Alkitab dalam bahasa rakyat.

38
Langkah berikut yang diambil Gereja adalah membentuk Inkuisisi, suatu pengadilan untuk menindas para bidah. Semangat tidak toleran telah merasuki orang banyak, yang percaya kepada takhayul dan yang dengan senang hati menggantung serta membunuh ”kaum bidah”. Situasi pada abad ke-13 menjadi ladang subur untuk penyalahgunaan kekuasaan oleh Gereja. Akan tetapi, ”kaum bidah yang dikutuk oleh Gereja harus diserahkan kepada ’tangan sekuler’—kalangan berwenang setempat—dan dibakar sampai mati”. (The Age of Faith) Dengan menyerahkan pelaksanaan eksekusi kepada kalangan berwenang sekuler, Gereja tampaknya bebas dari utang darah. Inkuisisi memulai suatu era penganiayaan agama yang mengakibatkan perlakuan kasar, pengaduan palsu dan tanpa nama, pembunuhan, perampokan, penyiksaan, dan kematian perlahan-lahan atas ribuan orang yang berani mempercayai sesuatu yang berbeda dengan Gereja. Kebebasan berekspresi di bidang agama diberangus. Adakah harapan bagi orang-orang yang mencari Allah yang benar? Pasal 13 akan menjawabnya.

39
Sementara semua hal itu berlangsung dalam Susunan Kristen, seorang Arab di Timur Tengah tampil menentang apatisme agama dan penyembahan berhala dari bangsanya sendiri. Ia memulai suatu gerakan keagamaan pada abad ketujuh yang dewasa ini berhasil memenangkan ketaatan dan ketundukan dari hampir semiliar orang. Gerakan itu adalah Islam. Pasal berikut akan membahas sejarah nabi pendirinya dan menjelaskan beberapa ajaran serta sumbernya.
[Catatan
Kaki]
Ungkapan ”jiwa yang tak berkematian”, ”api neraka”, ”api penyucian”, dan ”Limbo” tidak terdapat dalam Alkitab bahasa Ibrani dan Yunani asli. Sebaliknya, kata Yunani ”kebangkitan” (a·na

sta·sis) muncul 42 kali.
Kata Yunani e·pi

sko·pos secara harfiah berarti ’orang yang mengawasi’. Dalam bahasa Latin, kata ini menjadi episcopus, dan dalam bahasa Inggris Kuno diubah menjadi ”biscop” dan belakangan, dalam bahasa Inggris Abad Pertengahan, menjadi ”bishop” (uskup).
Menurut suatu legenda yang populer, Konstantin mendapat penglihatan tentang sebuah salib bertuliskan kata-kata Latin ”In hoc signo vinces” (Dengan tanda ini taklukkanlah). Menurut beberapa sejarawan, kata-kata itu kemungkinan besar ditulis dalam bahasa Yunani, yakni ”En toutoi nika” (Dengan ini taklukkanlah). Legenda ini diragukan oleh beberapa pakar karena kronologinya tumpang-tindih.
The
Oxford Dictionary of Popes menyatakan tentang Silvester I, ”Meskipun menjadi paus selama hampir dua puluh dua tahun semasa pemerintahan Konstantin Agung (306-37), suatu era perkembangan yang dramatis bagi Gereja, ia tampaknya tidak memiliki peranan penting dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi. . . . Memang, ada beberapa uskup yang dijadikan orang kepercayaan Konstantin untuk merumuskan kebijakan-kebijakan gerejawinya; tetapi [Silvester] bukan salah seorang dari mereka.”
Untuk pembahasan yang terperinci mengenai masalah Tritunggal, lihat brosur 32 halaman Haruskah Anda Percaya kepada Tritunggal? yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
Maria, ibu Yesus, disebutkan namanya atau sebagai ibunya di 24 ayat dalam keempat Injil dan satu kali di buku Kisah. Ia tidak disebutkan dalam surat para rasul mana pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar