26
Perjuangan
untuk Melakukan Apa yang Benar
SELAMA dunia Setan ini ada, umat Kristen harus berjuang agar tetap bebas dari pengaruhnya yang jahat. Rasul Paulus menulis: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” (Efesus 6:11-18) Namun, perjuangan kita bukan hanya melawan Setan dan dunianya, tetapi juga melawan keinginan kita sendiri untuk melakukan apa yang jahat. Alkitab mengatakan: “Yang ditimbulkan [“kecenderungan,” NW] hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya.”—Kejadian 8:21; Roma 5:12.
2
Karena dosa yang diwarisi dari manusia pertama Adam, hati kita mungkin ingin melakukan apa yang jahat. Jika kita menyerah kepada keinginan tersebut, kita tidak akan menerima kehidupan kekal dalam sistem baru Allah. Jadi kita perlu berjuang untuk melakukan apa yang benar. Bahkan rasul Paulus sendiri mengalami perjuangan demikian, seperti yang ia jelaskan: “Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” (Roma 7:21-23) Mungkin saudara pun merasakan bahwa perjuangan ini sulit. Kadang-kadang pertentangan yang kuat terjadi dalam diri saudara. Apa yang akan saudara putuskan untuk saudara lakukan dalam keadaan seperti itu?
3
Saudara mengetahui janji-janji Allah yang menakjubkan mengenai hidup kekal dalam keadaan-keadaan yang sempurna di bumi. Saudara mempercayai janji-janji ini, dan saudara sendiri menginginkan hal-hal yang baik ini. Jadi saudara tahu bahwa melayani Allah justru menghasilkan manfaat yang kekal bagi saudara sendiri. Akan tetapi dalam hati, saudara mungkin menginginkan hal-hal yang saudara ketahui sebagai sesuatu yang jahat. Kadang-kadang saudara mungkin memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan percabulan, mencuri, atau ikut dalam perbuatan salah lainnya. Beberapa orang yang mempelajari buku ini mungkin sedang terlibat dalam kebiasaan-kebiasaan buruk demikian, meskipun mereka tahu bahwa hal-hal ini dikutuk oleh Allah. Bahwa mereka berbuat salah pada waktu mereka ingin melakukan apa yang benar membuktikan kebenaran Alkitab: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu.”—Yeremia 17:9.